#KemarinSore

Dosa Pertama dan Terakhir

“Bila kau tak pernah buat dosa, silahkan hina ku sepuasnya.

Kalian semua suci, aku penuh dosa.”

AwKarin in BAD, featured by Young Lex

Begitulah hasil potongan midi yang aku sunting sebelum dijadikan nada dering di ponsel pintarku. AwKarin dengan segala dosanya menjadi sosok gadis nakal. Aku tak mengatakannya binal, meskipun beberapa orang lainnya mungkin akan berkata demikian. Nada dering itu sengaja kusetel khusus untuk bedakan panggilan telepon dirinya dari lainnya. Dia, yang selalu menemaniku dari jauh. Kita berdua menjalani hubungan jarak jauh, antara Indonesia dan belahan dunia lainnya. Di mana tepatnya, tak perlu semua orang tahu.

Cukuplah aku dan dia yang menjalani Long Distance Relationship ini, atau yang biasa disebut juga LDR, Loe Doang Relationship kalau menurut beberapa kawan setongkrongan di kantor. Menjalani hubungan ini tidaklah selalu mudah, tapi bagaimanapun juga, Kitalah yang paling paham bagaimana menyiasatinya, entah lewat telepon berbasis data via aplikasi chat terkini, ataukah hanya percakapan via email bahkan surat cinta. Biasanya, percakapan antara kita berdua tak terbatas topik, meskipun masih tercekat ruang dan waktu. Salah satu topik terpanjang yang pernah aku bahas dengannya adalah tentang Dosa.

“Lagi apa?” tanyaku mengawali.

“Lagi berdosa,” jawabnya.

“Maksudnya?”

“Iya, berdosa, merasa berdosa lebih tepatnya.”

“Kenapa?”

“Berdosa karena jauh dari kau.”

“Dasar kamu tuh, ya…” rajukku manja.

“Kau masih ingat, ‘kan pertama kali kita bertemu?” ungkitnya mesra.

“Lupa. Sudah lama juga, untuk apa aku mengingatnya?” jawabku, masih penuh rajuk.

“Aku masih menikah dengan istriku, dan kau masih bersama dengan tunanganmu. Kita berempat double-date di sebuah restoran hotel nan mewah di tengah kota itu, tak jauh dari pusat perbelanjaan yang ternama, terkenal seantero negara.”

“Iya, waktu istrimu masih hidup, dan tunanganku juga. Sebelum kita tahu bahwa mereka mati di hotel yang sama pada tahun 2008 itu, tanggal 26 November lebih tepatnya,” kenangku pedih.

“Dan tim forensik menemukan tengkorak mereka di ranjang pada kamar yang sama. Aku tau mereka berdua sekantor, tapi keraguan kita mengalahkan segalanya. Namun aku lebih memilih percaya atas pikiranku sendiri, apa pun kata orang lain.”

“Sudah, sudah. Yang telah lalu biarlah berlalu. Kalaupun kita berdosa atas hubungan yang platonik dan aseksual sebelum mereka mati itu pun, masih kalah dosa kita dibandingkan teroris yang membunuh keduanya pada malapetaka itu, ‘kan?”

“Iya, tahu. Tapi aku masih tidak terima, perselingkuhan kita yang hanya melibatkan rasa dan karsa, tanpa selapis kulitmu pun yang kuraba, tidak sebanding dengan pengkhianatan mereka berdua. Masih lebih manusiawi partai komunis di negara manapun yang tersalahkan atas pembantaian etnis nan borjuis, dibandingkan perbuatan zina mereka. Rasanya ingin sekali aku terlahir menjadi seorang fasis yang ultra-nasionalis, melebihi Hittler dan kawan-kawannya kalau perlu.”

“Poltak, jangan Kamu bawa-bawa Hittler ya…! Bagaimanapun juga, Aku masih sedarah dengan dirinya yang dikutuk seantero dunia, meskipun darahku mungkin sudah tidak semurni Fuhrer lagi. Dan kamu tahu juga kalau sudah begini, topik kita akan berbelok kepada para pasukan Femi-Nazi penyanyi Amerika yang satu itu, dan semua teori Phytagoras yang nyangkut dengan konspirasi iluminati dan lain sebagainya. Kamu gak mau tiba-tiba aku setel kencang-kencang lagunya di antara percakapan kita, bukan…?”

“Tenang saja, meskipun membenci Taylor Swift, Aku akan tetap mencintaimu, Butetku, Cintaku, Sayangku…. Bagaimanapun juga, cuma Kaulah satu-satunya yang Aku cinta. Kau percaya kan dengan gombalanku yang satu ini? Hehe….”

“Dasar, tukang gombal! Sama saja kamu dengan kain lap di warung kopi pinggir jalan tempat kita berteduh waktu jaman kamu masih susah. Kamu juga tahu kan bahwa aku mencintaimu tanpa peduli seberapa tebal dompetmu, tapi seberapa besar ego dan IQ-mu? Hahaha…”

“Ternyata Kau lebih lihai merayuku balik ya sekarang. Siapa dulu dong Gurunya…! Akhirnya, muridku bisa kencing berlari juga ya, hmm….”

“Tau deh yang kencingnya berdiri. Oh iya, Kamu kapan pulang ke Indonesia? Aku sudah kangen bersenggama penuh mesra denganmu di tempat istimewa kita, seperti biasa.”

“Sabar ya, Butetku, Cintaku, Sayangku. Ini masih banyak printilan yang harus aku siapkan tuk dituntaskan sebelum aku kembali. Lagian, kenapa pula tidak kau saja sih yang nyusulin aku ke sini?”

“Poltak-ku Sayang, dengar ya…. Aku bukannya tidak mau nyusulin ke sana, tapi kan kamu tahu sendiri kalau aku masih jadi tahanan rumah karena tunanganku yang sekarang terlibat kasus korupsi kemarin. Hanya karena rekening tabungannya, dipakai oleh orang yang tidak dia kenal sama sekali, di mesin ATM Setor Tunai itu. Mana dia tahu kalau orang itu melakukan transfer dana ke sebuah yayasan fiktif sebuah partai peserta PEMILU. Seorang anarkis anti negara seperti dia? Transfer uang korupsi ke partai!? Untuk apa…?” pitamku mulai menanjak, menaiki akal sehatku dengan cepatnya, bak api melahap bensin yang tersiram atasnya.

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku. Apapun yang kau katakan tentang tunanganmu yang baru itu, aku setuju. Belum lagi ditambah pekerjaannya sebagai kacung di perusahaan minyak negara itu, makin ragu aku kalau dia memang seorang anarkis anti negara,” timpalnya coba menenangkanku.

“Ya, mau bagaimana lagi,namanya juga orang cari makan, Baby… Kamu juga gak mau ‘kan dia jadi teroris saja; Rekrut orang yang mau ngebom Hotel di Mumbai, jauh di tanah Hindustan sana; Dia yang pastikan hotelnya meledak sebelum para pencari jalan pintas ke Surga itu jadi tumbalnya; Kamu tau sendiri kan, kalau dia akan lebih senang jika dijadikan kambing hitam daripada benar-benar menjadi dalang atas sesuatu hal? Kamu juga pastinya paling tahu kalau dia sangat membenci drama. Ingat waktu kita nonton teater di TIM itu? Saking muaknya dia dengan dialognya, sampai-sampai dia lebih memilih untuk menunggu kita di luar, sambil makan sate kambing istimewa yang pedas itu, karena tak ada tukang gado-gado atau ketoprak yang masih buka. Kamu sangat paham bahwa dia adalah seorang vegan yang tidak pernah makan daging, dan karena saking muaknya dengan pementasan itu, tiba-tiba dia menjadi seorang karnivora!?”

“Hahaha…. Lagian dia ngapain coba, sok-sok-an jadi vegan, tapi kalau tiap kali kita bersenggama, dia paling doyan kalau sudah memakan dagingku yang legit nan gurih itu?”

“Bisa-bisanya ya kamu mengalihkan pembicaraan, dan membuat aku semakin belingsatan sendirian, karena terpisah oleh penjara dengannya, dan jauh tertinggal dari kamu di sana?”

“Siapa suruh dia terkena kasus korupsi PEMILU?”

“Siapa suruh kamu jadi babu negara di negeri orang?” timpalku, lebih tak mau kalah lagi darinya.

“Ya, sudah lah, aku nyerah. Kau yang menang. Nanti kalau rajuk kau makin jadi, busuk lah pula nanti dagingku diangguri kalian. Hehe…”

“Dasar ngeres, bisa gak bahas yang lain saja?”

“Bisa diatur… Kau lagi apa? Serindu itukah jauh dariku di sana?”

“Lagi kangen lha, masa lagi selingkuh. Memangnya aku almarhum istrimu, yang sibuk kerja ke luar negeri, hanya demi bisa bercumbu dengan tunangan orang?

“Setidaknya kamu juga bukan mendiang tunanganku. Lelaki macam dia, yang pergi ke pusat kebugaran hanya untuk memperbesar otot tubuhnya, tapi kenyataannya gak punya otak sama sekali. Dan aku mau-maunya dibodohi brondong sekelasnya, yang harus aku bayarin semua kebutuhan fitness dan gaya hidup ala gym-rat macam dia. Iya, semua orang juga paham posisi tunangan baruku, yang masih hidup, di kantor cukup tinggi, dan sudah dapat dipastikan gajinya juga pasti di atas UMR. Jangankan regional,yang nasional pun masih jauh di bawah upahnya sebagai tukang minyak tanah negara.

“Tuh, kan. Aku mulai lagi deh ngelanturnya. Kan tidak semua orang pernah jadi tentara seperti kamu. Kalau kamu tidaklah akan mungkin iri dengan mereka yang harus keluarkan uang lebih banyak, hanya demi mendapatkan tubuh kekar otot kering seperti yang kamu punya, kamu pun tak seharusnya malu kalau negaralah yang buang-buang pajak dari rakyat, hanya supaya kamu bisa bertubuh bak Gatotkaca kesayanganku. Masih lebih payah aku yang bayarin almarhum tunanganku pakai uangku sendiri, yasih uang negara juga. Tapi setidaknya itu masih lebih baik daripada dia jual diri lalu terkena AIDS. Aku tidak mau kamu sampai terkena HIV+ juga dariku, terus nanti tidak bisa lagi menikmati dagingmu yang lezat dan nikmat itu?”

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku. Semua yang kau katakan selalu benar. Benar kata orang-orang kalau apa pun kata orang yang paling kita sayang akan selalu benar, ya ‘kan? Uang negara juga ujung-ujungnya, yang mengencangkan otot-otot keringku, dan membesarkan otot-otot basahnya. Tapi jujur saja, daging siapa yang lebih besar dan lebih menggiurkan? Dagingku, kan? Hehe…” tawanya penuh kemenangan.

Baby, please… Jangan buatku menyalakan VPN di setelan video call pada ponselmu dari jauh, supaya terlaksana kenikmatan di antara kita yang tertunda oleh jarak dan waktu. Kamu tau kan sengeri apa negeri tempatmu berada sekarang, kalau sudah mengurusi para pelaku pornoaksi yang tertangkap basah oleh negara? Kamu mau se-Timur Tengah menikmati tayangan kuliner istimewamu dengan banjir liur dan air mani? Kamu sudi kalau aku gak kebagian lagi lezatnya dagingmu kalau negara memotong-motongnya, seperti para pengkhianat yang menyiksa para anumerta di Lobang Buaya?” rajukku penuh ancaman.

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku…. Aku tau bagaimana kau kalau sudah ngidam lezatnya dagingku yang besar, mantap, lagi gurih penuh kenikmatan ini. Hehe….”

“Apa perlu aku ikut-ikutan jadi vegan saja seperti dia, tunangan baruku, yang kini meringkung di penjara. Tapi kalau begitu nanti dagingmu benar-benar akan membusuk karena terlantar tak ada satupun yang mau menikmatinya,” rajukku memuncak.

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku…. Tak akan pernah lelah aku melayani rajukanmu yang sungguh indah polanya itu. Kau kan paling senang kalau diperlakukan dengan halus, lemah lembut, bak anggota kerajaan dari Daerah Istimewa. Ditambah lagi, untuk seorang Jawa blesteran Eropa macam kau, jatuh cinta dengan Batak peranakan Sunda macam aku. Aku ragu kalau kau sedang sakit mata saat kita terus-terusan berjumpa untuk yang kesekian kalinya ‘kan, Butetku, Cintaku, Sayangku….”

“Iya, kalaupun mataku sakit, operasi lasik itu murah bagiku. Kalau perlu, bahkan operasi plastik, ganti kelaminpun akan aku lakukan. Tapi aku kan gak mau, karena kamu juga gak mau aku operasi plastik macam itu, ‘kan, Poltak-ku, Sayang….”

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku. Kamu memang paling tau kalau aku mencintaimu apa adanya. Tidaklah perlu Kau mengubah sejentik pun keanggunanmu dengan separas kecantikan yang palsu, pakai uang negara pula. Makin sulitlah tunangan barumu nanti di depan Hakim nanti, apalagi kalau ongkos operasinya sama mahal dengan dana yang ditransfer ke yayasan fiktif partai peserta PEMILU itu. Hehe…” kilahnya, coba menghiburku.

“Iya, Poltak-ku Sayang…. Jadi, kapan kamu akan pulang membawa daging lezat kesukaanku itu kembali ke sini?”

“Secepatnya, tapi belum tahu kapan pastinya. Seandainya kau tidak terjebak dengan kasus korupsi tunangan barumu itu, pasti kau juga sudah bersamaku di sini, kan…” jawabnya tidak menyelesaikan masalah jarak di antara kita berdua.

“Kamu tahu, kawan-kawan di kantor senang betul merundungku dengan lawakan mereka. Mereka bahas soal apa itu LDR, lalu mereka bilang kalau itu singkatan dari Loe Doang Relationship. Kamu tahu betapa tersiksanya aku dengan caci-maki penuh celaan recehan macam itu?”

“Iya, Butetku, Cintaku, Sayangku. Tak perlu jugalah kau ceritakan ke orang-orang kalau kau pacaran denganku. Mereka juga ‘kan tidak akan pernah bisa kenal siapa aku. Untuk apalah aku ini kau ceritakan kepada mereka. Aku bukanlah siapa-siapa. Apalah aku ini seorang kacung negara. Kau tau kan, aku hanya cuma suka akan suatu ikhwal, selama perihal itu masih tentang kau. Jadi, di mataku, hanya kaulah yang paling penting, sedangkan yang lainnya, hanyalah featuring,” sanggahnya penuh rayuan gombal.

“Iya, Poltak-ku Sayang… Tapi kalau aku tidak cerita soal punya pacar kepada mereka, si Liar itu bakalan gangguin aku terus! Kamu tahu kan soal matanya yang jelalatan kalau lagi nongkrong bareng aku dan kawan-kawan sekantor lainnya? Belum lagi kalau lihat siapapun yang berpakaian provokatif, membuatnya blingsatan karena terpacu darah jantungnya oleh nafsu. Kamu mau kalau aku sampai harus jatuh ke pelukannya karena dia pasang pelet?” pembelaanku berada di jurang kesadaran, sebuah self-defence mechanism yang membuatku nyaris tergelincir oleh rahasiaku sendiri.

“Pelet itu memang apa sih? Perasaan, aku tidak memerlukannya untuk memikatmu supaya jatuh ke pelukanku. Hehe…”

Like you really wanna know, but you just don’t,” leraiku coba redakan gugupku sendiri, penuh canggung.

“Kau ngomong apa sih, aku gak ngerti. Serius nih! Kau tahu kan, bukannya aku gak suka ngomong bahasa asing, tapi aku cuma mau kita ngobrol pakai Bahasa Indonesia saja. Sudah terlalu lelah egoku mengalah dari para delegasi negara-negara persemakmuran itu. It doesn’t mean that I can’t. I just don’t want to, Honey…”

I know that you’re tired using this lame English, but I also tired, waiting for you to come back home to me, Baby. Aku paham kamu lelah ngoceh seharian sama mereka pakai Bahasa Inggris, tapi aku juga lelah, nungguin kamu pulang, Sayang….” rajukku meredakan canggung yang terlah berlalu.

“Tau deh, yang lulusan Summa Cum Laude di kampus Sekolah Tinggi Bahasa Asingnya… Tapi kau tau kan siapa lulusan terbaik, alias Magna Cum Laude di Boston University School of Law-nya?” pamernya tak mau kalah saing.

“Tau deh yang lulusan Amrik… Tapi kamu juga tahu kan, mana yang lebih tinggi, antara Summa, Magna, dengan yang cuma Cum? Ya sudah, aku beri tau saja ya…, semuanya itu adalah Bahasa Latin. Laude artinya ‘pujian’, Cum itu ‘dengan’, Magna berarti ‘besar’, dan Summa adalah yang ‘tertinggi’, jadi…,” bantahku halus, masih berusaha merebut kemenangan, sebelum akhirnya terpotong ucapanku olehnya di seberang sana.

Ah, Honey, I’m Cum, Cum, Cum, I’m Cumming!… Oh, yeah… It’s felt so great, Darling!!! Talk to you later, yeah? Got to go wash myself now. Hehe… Love You 3000,” kicaunya dalam Lame English, membuatku sangat terganggu tapi juga penuh nafsu pada saat yang sama.

“Dasar Poltak!” marahku penuh nafsu, melampaui kesal, sambil menutup telepon dengannya, berakhir tersenyum sendiri, membayangkan adegan binal nan nakal di kepalaku, memenuhi otakku sampai pusing, berbuah mimisan berdarah segar mengalir di antara bibir merahku.

***

“Dosaku hanyalah mencintaimu, dengan segala nafsuku penuhi pikiranku, menelanjangimu sampai habis putaran otak ‘tuk memikirkannya hingga kelu,” khidmatku dalam hati.

Sambil mengutuk diri atas wangi pelet nan semerbak, yang kutebar jauh sebelum kamu menjadi milikku, aku tersimpuh di altar gereja nan sunyi ini, mencoba berdamai dengan diriku sendiri, penuh niat tuk menebus dosa yang tak pernah sanggup terlupakan. Dosa pertama dan terakhirku cuma satu; mencintaimu sepenuh nafsu.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *