#10Thrones #KemarinSore #KitaFoodie

Firasat

Cepat pulang. Cepat kembali, jangan pergi lagi. Firasatku ingin kau ‘tuk, cepat pulang…. Pulang…. Aku pun sadari, engkaulah firasat, hati.

Firasat, dipopulerkan Marcell, dituliskan Dewi Lestari

Aku masih menunggumu. Entah sudah berapa kali lagu Firasat terulang kembali di pemutar musik daring di ponselku. Sejak perkenalan pertama kita, di layanan kencan daring di ponsel yang sama, aku sudah jatuh hati padamu. Meskipun kita belum pernah sekalipun bertemu, aku sudah merasakan kedekatan yang begitu nyata denganmu. Seolah aku telah mengenalmu seribu tahun lamanya, mungkin di kehidupan sebelumnya, atau entah karena apa.

Percakapan pertama kita pun mengalir alami, seperti suara air pada sungai, mengalun lembut nan syahdu. Aku yakin, getar merdu glotalmu bahkan lebih indah dari aliran percakapan kita. Walau belum pernah bertukar suara di udara, kita tak pernah melewatkan bertukar kabar sehari pun, baik lewat layanan kencan itu ataupun bertukar pesan via email, sms, ataupun aplikasi percakapan daring.

“Hey, what are you doing today?” tanyamu pagi ini, dalam bahasa inggris pasifmu yang fasih, mengingat bahwa kamu adalah seorang ekspatriat yang tengah dinas di kota ini.

“Aku sedang sarapan, kamu sedang apa?” jawabku.

“Have a morning meeting, don’t have time yet for any breakfast, maybe I’ll take a brunch, or lunch. A coffee is enough to start my day.”

“Oh, ya? Rapat apa?”

“Just usual, a briefing for the next project. What do you have for breakfast?”

“Hanya waffle, pancake, dan selembar telur mata sapi. Sarapan favoritmu,” ketikku cepat, sambil mengingat apa yang jadi kesukaanmu.

“Wow, I’m so damn envy with your meals already. Okay then, talk to you later, have to do the presentation right now.”

“Ya, kamu juga, jangan lupa makan.”

Begitulah salah satu percakapan di antara kita. Sampai akhirnya jam makan siang pun tiba, dan aku mulai mengkhawatirkan kesehatanmu. Lalu, aku pun berinisiatif lebih dulu menyapamu, masih via aplikasi yang sama.

“Jadi, bagaimana meeting-nya tadi?”

Dan kamu pun masih belum menjawab sampai sekarang. Jam di ponselku sudah menunjukkan angka tiga, mendekati empat bahkan. Sejam kemudian, kamu baru membalas ketikanku.

“Hey, Baby. Sorry, I was so busy. I got lunch while still having the meeting with the clients. They order some delivery food for us. What you have for lunch? I got pizzas.”

“Sepiring Pasta, Aglio e Olio, dengan tuna dan salmon.”

“It sounds better than mine. Hmm… you just made me crave for it.”

“Sungguh?”

“Really! How about I treat you for dinner tonight?”

“Tentu, kenapa tidak? Tapi apa kamu yakin? Kita bahkan belum pernah telepon.”

“It’s fine for me. Only if that’s okay with you.”

“Baiklah kalau begitu. Kamu mau makan pasta apa? Pasta yang sama sepertiku? Atau mungkin yang lainnya?”

“Let’s eat at my favourite place. They have such colorful option of pasta. You know what my favourite color, rite?”

“Kamu yakin? Mau makan pasta yang warnanya biru? Memangnya ada?” tanyaku penuh ragu.

“Wait. I’ll send you the picture.”

https://instagram.fcgk8-2.fna.fbcdn.net/vp/91db6dd0918892c091c727e9c91f0374/5DE64D09/t51.2885-15/e35/28751142_1586815904765383_296865120137510912_n.jpg?_nc_ht=instagram.fcgk8-2.fna.fbcdn.net&_nc_cat=107
Blue Spirulina Tagliatelle

“Do you believe me now?”

“Wah, cantik sekali…,” responku cepat, meskipun masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.

“It’s delicious, isn’t it? It’s from this restaurant based on Sydney, Australia. Go check out their menu via website on http://www.markandvinnys.com/, but they don’t have any website yet for the new local branch here. Do you want it too?”

“Ya, aku juga ingin. Apa kamu yakin mereka sudah buka cabang di kota ini?”

“I’m pretty sure. The owners are close to my friend in Sydney. My friend, who quite close with them, is the one who invited me at first time, when they have the opening here.”

“Baiklah, kalau begitu, sampai jumpa nanti malam, ya.”

“Okay, then. See you tonight, Baby.”

Dan disinilah aku sekarang, menunggu dirimu menjemputku di lobby gedung kantorku. Aku hanya bisa pasrah menunggumu, setelah kamu berjanji akan datang menjemputku di kantor malam ini. Lokasi kantorku pun sudah kuberikan kepadamu, dengan fitur lokasi terkini yang akan selalu menyala secara langsung, menunjukkan posisiku di GPS-mu.

Tetapi, jujur saja, aku mulai ragu dengan janji kita malam ini. Seringkali kamu bercerita tentang betapa sibuknya dirimu, bahkan tidak jarang kamu pun terbiasa menunda jam makanmu, hanya karena larut dalam kesibukanmu. Kerja, kerja, dan kerja. Kamu selalu bercerita, bahwa hanya karena pekerjaanlah kamu bisa bertahan untuk ditugaskan di negara ini, terutama di kota tempat aku tinggal, juga bekerja.

Tak lama setelah aku turun ke lobby bawah, keluarlah Office Boy kantorku dari pagar akses pembatas keamanan. Pagar tersebut mengamankan akses gedung kantor kami. Karena itulah, hanya yang memiliki kartu akses karyawan saja, yang bisa melanjutkan ke bagian terpisah antara ruang publik dan ruang korporasi.

“Lho, sampeyan kok dewe’an, Mba?” tanya OB itu.

“Iya, nih. Sendirian, masih menunggu jemputan. Hehe…,” tawaku terpaksa.

“Oh, arep mlaku-mlaku, po?”

“Tidak juga, hanya janji temu saja.”

“Yowis, Mba. Duluan, yo.”

“Iya.”

Sejam kemudian, aku pun berpindah tempat ke area merokok yang tak jauh dari lobby gedung itu. Semakin gelisah, aku pun mencoba menyapamu lewat ketikan.”

“Kamu dimana? Sudah dekatkah? Kabari aku ya, kalau pun tidak jadi, tidak apa. Aku akan langsung pulang ke rumah, melanjutkan pekerjaanku di sana.”

Sambil menunggu jawabanmu, aku pun membuka laptop di meja, masih di area merokok. Awalnya, aku mulai memeriksa email kantor, dan membalas beberapa korespondensi yang terkait dengan pekerjaan. Tak lama, jariku pun teralih untuk membuka layanan putar film daring. Sebuah serial menarik baru saja rilis pada satu layanan televisi internasional, yang juga dapat diakses beberapa negara. Aku pun masuk ke dalam layanan daring mereka dengan akun televisi kabel berbayarku di rumah. TV Zaman Now.

Serial itu bercerita tentang penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh seorang gadis, masih berstatus pelajar. Gadis itu baru saja selamat dari malapetaka karena O.D alias Over Dosis. Dia pun akhirnya bersahabat erat dengan gadis lainnya, yang ternyata transgender, dari sekolah yang sama. Sang gadis transgender bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seseorang, yang ternyata berbeda dengan yang dia bayangkan. Pada akhirnya, mereka berdua pun menjalin hubungan asmara yang lebih dalam dari persahabatan.

Tiba-tiba, notifikasi ponselku menyala. Sebuah chat darimu masuk.

“Sorry, Baby. I still caught in a tele-conference meeting with clients tonight, maybe I’m going to have overnight work at office. Rain-check?”

“Oke,” jawabku singkat.

Hmm…. Sudah kuduga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *