Taufan

Kebayoran

Malam itu adalah salah satu malam minggu yang terasa paling panjang dibandingkan malam-malam lainnya. Semuanya dimulai dari sejak pagi sebelumnya pada hari yang sama. Sebuah pertemuan yang tak lagi perdana, tapi begitu ramai dengan obrolan. Sebuah diskusi lanjutan tentang percakapan yang sebenarnya sudah dimulai dari tahun sebelumnya.  Memulai hari di Bogor, tepatnya di Dunkin Donut seberang RS Salak, tak jauh dari Istana Kepresidenan dan Balai Kota Bogor. Seorang kawan sudah menunggu Saya sejak pukul 7pagi di sana, tapi suasana akhir pekan begitu merasuk ke dalam jiwa, buat badan cukup terlena hingga sempat tertidur sebentar, nyaris ketinggalan kereta pagi.

Let’s The Journey Begin

Di perjalanan pagi itu dari Stasiun Pasar Minggu menuju Bogor, bertemulah Saya dengan seseorang yang masih mungil. Ia ditemani oleh Kakek dan Neneknya, bertiga mereka hendak bertamasya ke Sukabumi, katanya. Sepanjang perjalanan, Si Bocah Mungil itu tak hentinya menikmati pemandangan dari jendela gerbong kereta kita. Sesekali dia sambil lalu menyaksikan tayangan kegemarannya lewat layar kecil gawai milik orangtua dari orangtuanya. Lalu sang Kakek mulai bercerita tentang bagaimana anak dari anaknya biasa bertingkah laku. Mulai di rumah sampai bagaimana kebiasaan sang cucu yang tak habis menggemaskannya. Terutama perilakunya di ruang public, seperti lorong gerbong kereta yang sepi salah satunya.

Pertemuan Kita berempat yang singkat itu harus berakhir tatkala mereka harus melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dari Stasiun Paledang, yang terletak tidak jauh dari Stasiun Bogor. Dengan langkah pasti, Saya pun melanjutkan perjalanan menuju tempat pertemuan dengan seorang kawan yang telah menunggu terlebih dahulu sebelumnya. Sejak pukul 7pagi ia sudah standby, terjaga penuh was-was apakah Saya akan datang atau tidak. Ternyata Saya masih lekat dengan DNA Khatulistiwa, yang konon katanya salah satu traits tingkah lakunya adalah kecenderungan yang kadang suka mengaret kalau urusan waktu. Jam karet, istilahnya, seingat Saya jargon ini bermula dari para pekerja di perkebunan karet, dimana mereka bisa terlena menunggu mengerati getah karet yang memang lama terkumpulnya.

Sampai di tempat yang telah ditentukan, Kita pun lanjut sarapan; Saya dengan segelas Jus Jeruk yang dingin, dan setangkup donat tuk kawan Saya. Kemudian mulailah Kita merampungkan apa yang sempat dibicarakan pada tahun sebelumnya, sebuah hasrat pribadi Saya untuk miliki domain dan hosting laman daring sendiri. Beberapa waktu berlalu, kemudian jadilah laman dengan Local Domain bertaut .ID di belakangnya, dengan Unlimited Hosting bertajuk Niaga Hosting https://TaufanWords.ID ini rampung dibuat. Setelah memilah-milih beberapa Themes yang tersedia, akhirnya Saya menjatuhkan pilihan kepada Fortunato, terutama karena Pictorial Heading-nya pada saat sebuah postingan blog dibuka, dan beberapa informasi detail yang dapat Saya cantumkan pada di sisi/dasarnya.

Sekitar pukul 10pagi akhirnya Kita menyudahi, dengan beberapa project lainnya yang masih menggantung terhutang, karena sudah sempat Saya janjikan sebelumnya. Kembali mengejar kereta ke Jakarta untuk sebuah acara yang mana kawan Saya lainnya berdiri sebagai pembicaranya pada pukul 11pagi di @America, Pacific Place, Jakarta. Yang membuat acara di Pusat Kebudayaan Amerika tersebut menarik adalah, ternyata penyelenggaranya adalah kawan-kawan Saya juga di Couch Surfing Writers Club di Jakarta, dengan beberapa di antaranya adalah para aktivis hak anak di Sahabat Anak Manggarai, dan salah satunya memang juga berkeseharian dengan bekerja di Kedutaan Besar Amerika, Kebon Sirih.

Acara Sahabat Anak tersebut dilanjutkan dengan Mastering GRE, sebuah alat ukur kemampuan berbahasa asing, yakni English, diperuntukan terutama bagi mereka yang hendak melanjutkan Studi Post-Graduate atau S2 dengan gelar Master, untuk penempatan studi di Amerika Serikat. Tak sengaja, Saya pun bertemu dengan seorang kawan lainnya pada saat acara tentang Bahasa Inggris tersebut berlangsung. Usai rancangan acara di @America tersebut, Saya dan kawan Saya lanjut berkunjung ke Pasar Santa, di mana acara lainnya sudah ditunggu untuk dimulai pada pukul 4sore. Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet, dan hal itulah yang menjebak sang Bintang Utama dari acara terhambat di perjalanan.

Sebelum pukul6petang berakhir, Saya pun bertolak dari Pasar Santa dengan dua kawan saya lainnya. Bertiga Kita menuju untuk sebuah pertemuan lainnya di Trafique Coffee, di bilangan Hang Tuah Raya. Lokasinya tak jauh dari bilangan Senayan City dan STC Senayan. Tak lama, sekitar pukul 7malam Kita sudah melanjutkan perjalanan ke pertemuan lainnya, masih di bilangan Senayan juga. Hingga waktu menunjukkan pukul 10malam, dan salah satu kawan Saya pamit undur diri. Sementara itu kawan Saya yang lainnya masih bersama Saya sampai akhirnya Kita cukup menunggu lama GrabCar ke stasiun terdekat di daerah Palmerah. Dari Stasiun Palmerah tersebut Kita pun melanjutkan perjalanan pulang ke tempat masing-masing. Saya pun turun lebih dulu di Stasiun Kebayoran, sedangkan kawan saya turun beberapa stasiun setelahnya.

Di Stasiun Kebayoran lah Saya menutup hari itu, dan akan memulainya kembali pada hari-hari lain pada esoknya dan nanti lagi. Baru kali itu pertama saya injakkan kaki dan helakan nafas di stasiun yang cukup megah juga lapang ruangnya. Kalau sudah lupa diri, mungkin Saya akan menari di ruang publik yang cukup terbuka lagi lega tersebut. Sayangnya, tubuh Saya yang sudah terlalu lelah seharian berkegiatan dari Jakarta-Bogor-Jakarta, berontak dari hasrat menari ala-ala film India itu. Benar saja, raga Saya yang memang tak seberapa hebatnya pun tumbang keesokannya pada hari Minggu. Saya pun tepar setepar-teparnya, selayaknya korban penculikan yang pingsan dibius dengan sesekap alcohol, lemas tak berdaya. Tidak hanya itu, sakit gigi yang cukup meradang di mulut pun membuat Saya cukup demam. Satu undangan acara keluarga dari sanak kerabat dekat pun tak mampu Saya sanggupi tuk datang di penghujung akhir pekan yang sama. Ah, ternyata Saya cuma manusia biasa, bukan dewa apalagi tuhan bagi beberapa mereka yang mungkin salah kira. Terimakasih Kebayoran, yang telah mengingatkan Saya bagaimana berartinya menjadi manusia yang bermakna.

9 Comments

  1. terakhir ke Stasiun Kebayoran waktu belum direnovasi. tentu tak sebagus sekarang. dan saat keluar dari stasiun itu aku diancam oleh beberapa opang untuk tidak memesan ojek online di situ. aku bilang ke mereka, “gue nunggu taksi, bukan mau naik ojek!”

    1. Fenomena yang terjadi antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan yang masih terjadi hampir di semua Stasiun, adalah diberlakukannya kebijakan radius penjemputan. Terakhir Saya alami sendiri bagaimana beberapa kali penjemputan harus berjalan sampai radius Ojek Pangkalan memberikan toleransi kepada Ojek Online untuk menjemput penumpangnya. Ancaman Kekerasan Langsung, atau Direct Violence Threads kerap masih dialami oleh para pelaku Ojek Online, baik penyedia jasa maupun penumpang. Hal ini baiknya lebih diperhatikan lagi, terutama bagi para Digital Corporation for Mobile Apps seperti Grab, Gojek, dsb untuk merangkul semua Ojek Pangkalan kalau perlu dan bisa dimudahkan untuk menjadi Ojek Online, semacam digitalisasi layanan publik (mungkin?)

  2. Hi Taufan,

    Tulisan yang bagus.. Salam kenal ya, waktu itu aku juga ikut workshop session GRE di @america, btw, kamu rencana mau ambil GRE untuk daftar univ apa dan studi apa?

    1. Hi Siska,

      Thank you for your feedback, dear… My background was 2years in Indonesia Linguistic & Literature, then I got transferred to Clinical & Industrial Organizational Psychology in the same campus. Still don’t know yet which major going to continue, but it’s in between Creative Writing, Business Management, and Applied Psychology, with the correlation for any topics upon Urban Studies Major on Arts, Anthropological, Creatives, Cultural, Humanities and any related further studies. So far I’ve been looking for Ivy Leagues campus near around Boston, Brooklyn, and also Iowa.

      What about yours, Siska? Do you have blogs too so that I could blog-walking through it?

  3. duh ceritanya kang taufan, jadi ikut terbawa tulisan nih 🙂
    terakhir ke kebayoran di akhir bulan kemarin, bagus dan udah banyak perubahan, gak kaya dulu.
    ditunggu artikel2 berikutnya 🙂

    1. Teh Lili… Miss You So Much! Hayuk atuh kapan kita ngobrol2 seru lagi, long time no see… Sorry agak lama approved comment nya, kemarin habis kecelakaan soalnya, ini baru sempat dibukakan Blog nya oleh kawan, dan masih agak susah posting blog baru karena masih minta tolong diketikin juga. Huhuhu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *